Latest News

Zillennials Sibuk Petualang, Gen Z Udah di Pelaminan: Kenapa Sih?

30/01/2026

Pernah nggak kamu lagi asyik scrolling Instagram, lalu melihat adik kelas angkatan 2000-an sudah pamer foto buku nikah, sementara kamu yang kelahiran 1995 sampai 1998 masih sibuk revisi laporan, mengejar promo tiket pesawat, atau malah masih bingung mau makan siang apa?

Fenomena ini nyata. Banyak anak kelahiran 2000-an yang memutuskan menikah muda, sementara kakak-kakak tingkatnya di usia 25-29 tahun justru masih betah dengan status single atau pacaran lama tanpa buru-buru ke pelaminan.


Siapa Sih Mereka? Kenalan Sama "Zillennial"

Sebelum bahas lebih jauh, mungkin kamu asing dengan sebutan ini. Orang-orang kelahiran 1995-1999 sering disebut sebagai Zillennial.

Nama ini adalah gabungan dari Millennial dan Gen Z. Mereka adalah "generasi transisi" yang berada di tengah-tengah. Mau dibilang Millennial, tapi nggak terlalu relate dengan tren lama. Mau dibilang Gen Z, tapi mereka masih ingat rasanya main HP Nokia dan dengerin radio. Karena berada di persimpangan zaman, cara mereka melihat hidup dan pernikahan pun jadi sangat unik.


Kenapa yang Lebih Tua Malah "Betah" Sendiri?

Secara psikologis dan sosiologis, ada alasan logis kenapa para Zillennial ini lebih memilih fokus berkarir atau berpetualang:


  1. Teori Emerging Adulthood (Masa Dewasa yang Berpanjangan): Psikolog Jeffrey Arnett menjelaskan bahwa orang di usia 20-an akhir saat ini menganggap masa tersebut sebagai waktu untuk eksplorasi identitas. Zillennials cenderung memprioritaskan "menemukan diri sendiri" lewat hobi, travelling, dan karier sebelum memikul tanggung jawab rumah tangga yang berat.

  2. Pragmatisme Ekonomi: Zillennials masuk ke dunia kerja di tengah ketidakpastian ekonomi yang tinggi. Hal ini memicu munculnya Opportunity Cost, mereka merasa jika menikah sekarang, mereka akan kehilangan kesempatan untuk sekolah lagi, naik jabatan, atau keliling dunia. Sehingga mereka lebih memilih membangun fondasi finansial yang kokoh agar tidak "kaget" secara ekonomi setelah menikah nanti.

  3. Melihat Pernikahan Sebagai Pilihan, Bukan Keharusan: Bagi mereka, pernikahan bukan lagi "garis finish" kesuksesan. Mereka lebih menghargai kebebasan untuk mengeksplorasi potensi diri selagi masih muda.

Dilema Kencan: Makan Malam yang Kaku atau Pengalaman Seru?

Karena fokus pada karier dan petualangan, para Zillennials ini biasanya punya standar kencan yang berbeda. Mereka sudah bosan dengan dinner cantik yang ujung-ujungnya hanya berisi pertanyaan interview kerja: "Kesibukannya apa?" atau "Rencana 5 tahun ke depan apa?". Hasilnya? Awkward silence. Suasana jadi kaku dan malah bikin makin malas buat cari pasangan.


NAV Karaoke: Tempat "Tes" Kepribadian Gebetan paling Ampuh

Kalau kamu ingin kencan yang low pressure tapi tetap berkesan (dan bisa sambil "menilai" calon pasangan), ajak dia ke NAV Karaoke. Kenapa? Karena karaoke adalah stress test paling menyenangkan untuk melihat karakter asli seseorang:


  1. Si Suportif atau Si Dominan? Lihat bagaimana dia bereaksi saat kamu pegang mic. Apakah dia ikut nyanyi bareng dan menyemangati (suportif), atau malah sibuk pilih lagu sendiri dan memotong giliranmu (dominan)?

  2. Selera Musik = Frekuensi Jiwa: Musik adalah bahasa universal. Kalau selera musik kalian nyambung, obrolan setelahnya dijamin bakal lebih mengalir.

  3. Melepas Topeng "Image": Sulit untuk tetap terlihat "jaga image" saat sedang teriak menyanyikan lagu rock atau lagu galau tahun 2000-an. Di sinilah kamu bisa melihat sisi aslinya yang lebih santai dan humoris.

Kesimpulannya? Mau kamu tim nikah cepat atau tim kejar karier dulu, yang penting adalah kualitas hubungan yang kamu jalani. Daripada terjebak dalam kencan yang membosankan, lebih baik ciptakan momen yang bikin kalian tertawa lepas.

Siapa tahu, dari duet lagu romantis, kalian jadi kepikiran buat bikin "konser" bareng selamanya!



Informasi lebih lanjut:


Website: https://nav.co.id/

Instagram: [@navkaraoke]

TikTok: [@official.navkaraoke]

News & Event
Zillennials Sibuk Petualang, Gen Z Udah di Pelaminan: Kenapa Sih?
30/01/2026

Pernah nggak kamu lagi asyik scrolling Instagram, lalu melihat adik kelas angkatan 2000-an sudah pamer foto buku nikah, sementara kamu yang kelahiran 1995 sampai 1998 masih sibuk revisi laporan, mengejar promo tiket pesawat, atau malah masih bingung mau makan siang apa?

Harga Emas Terus Naik, Dompet Jangan Panik: Panduan Finansial & Investasi Buat Anak Muda
26/01/2026

Beberapa waktu terakhir, berita tentang harga emas yang terus merangkak naik ramai dibicarakan di mana-mana. Timeline media sosial penuh dengan update harga, antrean di butik emas, sampai obrolan soal "mending beli sekarang atau nanti?". Buat banyak anak muda, situasi ini bisa terasa membingungkan. Di satu sisi ingin ikut investasi, di sisi lain takut salah langkah dan malah bikin keuangan berantakan. Padahal, kenaikan harga emas justru bisa jadi momen yang tepat untuk mulai lebih sadar mengatur finansial, bukan panik.

Hujan Terus, Mau Ngapain? 7 Aktivitas Seru di Musim Hujan
23/01/2026

Hujan seolah tak mau berhenti belakangan ini. Hampir setiap hari langit mendung, jalanan basah, dan beberapa wilayah, termasuk Jakarta, bahkan kembali dilanda banjir. Aktivitas di luar rumah jadi serba terbatas, rencana banyak yang tertunda, dan sebagian dari kita mulai merasa jenuh terjebak di dalam ruangan.

Friendship Recession: Kenapa Semakin Dewasa, Kita Semakin Sulit Ketemu Teman?
21/01/2026

Pernah nggak kamu sadar, makin dewasa justru makin jarang benar-benar bertemu teman? Dulu bisa nongkrong hampir tiap minggu, sekarang sekadar chat "kapan ketemu?" saja sudah terasa sulit. Atau mungkin interaksi kamu dengan sahabat sekarang terbatas pada saling balas Story Instagram atau sekadar ucapan ulang tahun di chat? Pertemanan yang dulu hangat, pelan-pelan terasa menjauh tanpa kita sadari. Fenomena ini sering disebut sebagai Friendship Recession. Seiring bertambahnya usia, prioritas kita bergeser ke karier, pasangan, hingga keluarga. Waktu luang menjadi barang mewah, dan rasa "mager" (malas gerak) setelah bekerja seringkali menang melawan keinginan untuk bersosialisasi.

Ketika Perempuan Memilih Bertahan: Tentang Kekuatan, Kesadaran, dan Menjaga Diri
14/01/2026

Belakangan ini, novel Broken String karya Aurelie Moeremans ramai diperbincangkan. Lewat buku memoar tersebut, Aurelie membagikan perjalanan hidupnya dengan jujur dan berani - bukan dengan teriakan, melainkan melalui tulisan yang tenang dan reflektif. Tanpa mengangkat sensasi, kisah ini mengingatkan kita bahwa kekuatan perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras, tetapi juga dalam keberanian untuk bertahan, mengenali diri, dan memilih untuk pulih. Di luar cerita siapa pun, satu hal menjadi semakin relevan: pentingnya kesadaran dan rasa aman bagi perempuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.