Belakangan ini, novel Broken String karya Aurelie Moeremans ramai diperbincangkan. Lewat buku memoar tersebut, Aurelie membagikan perjalanan hidupnya dengan jujur dan berani - bukan dengan teriakan, melainkan melalui tulisan yang tenang dan reflektif. Tanpa mengangkat sensasi, kisah ini mengingatkan kita bahwa kekuatan perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras, tetapi juga dalam keberanian untuk bertahan, mengenali diri, dan memilih untuk pulih. Di luar cerita siapa pun, satu hal menjadi semakin relevan: pentingnya kesadaran dan rasa aman bagi perempuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Sering kali, perempuan diajarkan untuk "kuat" dengan cara menahan, mengalah, atau bersikap sopan dalam situasi apa pun. Padahal, kuat juga berarti berani mendengarkan intuisi, mengenali batas diri, dan menjaga keselamatan pribadi. Rasa tidak nyaman bukan hal sepele. Intuisi sering kali menjadi sinyal awal bahwa ada sesuatu yang tidak beres - dan perasaan itu valid.
Tanpa bermaksud menakut-nakuti, berikut beberapa hal penting yang bisa menjadi pengingat bersama:
Jika kamu atau orang di sekitarmu pernah merasa berada dalam situasi yang tidak aman, penting untuk tahu bahwa bantuan selalu tersedia. Di Indonesia, kamu bisa menghubungi:
Layanan ini tersedia untuk memberikan pendampingan, informasi, dan dukungan secara aman dan rahasia.
Kisah-kisah yang dituliskan dengan jujur, seperti dalam Broken String, membuka ruang refleksi bagi kita semua - bahwa setiap perempuan berhak merasa aman, didengar, dan dihargai. Kekuatan tidak selalu terlihat keras; terkadang ia hadir dalam bentuk kesadaran, keberanian untuk menjaga diri, dan langkah kecil untuk mencari bantuan.
Jika kamu membaca ini dan merasa relate, ingat satu hal: kamu tidak sendiri, dan kamu pantas mendapatkan rasa aman.
Belakangan ini, novel Broken String karya Aurelie Moeremans ramai diperbincangkan. Lewat buku memoar tersebut, Aurelie membagikan perjalanan hidupnya dengan jujur dan berani - bukan dengan teriakan, melainkan melalui tulisan yang tenang dan reflektif. Tanpa mengangkat sensasi, kisah ini mengingatkan kita bahwa kekuatan perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras, tetapi juga dalam keberanian untuk bertahan, mengenali diri, dan memilih untuk pulih. Di luar cerita siapa pun, satu hal menjadi semakin relevan: pentingnya kesadaran dan rasa aman bagi perempuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Liburannya sudah usai, tapi kok capeknya mulai berasa ya? Masuk minggu kedua Januari, euforia kembang api sudah berganti dengan tumpukan file di meja kantor atau jadwal kuliah yang mulai padat. Kalau kamu mulai merasa jenuh dan butuh stress release dari rutinitas awal tahun, musik bisa jadi cara tercepat buat "kabur" sejenak.
Akhir tahun selalu datang dengan vibe yang berbeda. Lampu-lampu mulai menghiasi sudut kota, kalender makin tipis, dan undangan kumpul bareng keluarga atau teman mulai berdatangan. Supaya momen Natal dan Tahun Baru terasa lebih hangat dan nggak keteteran, ada beberapa hal yang sebaiknya kamu siapkan dari sekarang. yuk simak panduan "Before the Year Ends" berikut ini agar penutup tahun 2025 kamu berjalan mulus dan memorable.
Beberapa tahun belakangan, media sosial dipenuhi quotes tentang hustle culture. Kerja keras sampai lupa tidur, grinding 24/7, dan bangga overworked. Semua berlomba jadi 'paling sibuk' untuk mengejar sukses finansial di usia muda. Namun ada pergeseran masif terhadap gen Z sekarang. Generasi yang dikenal digital native ini justru mulai ogah-ogahan dengan hustle culture yang toxic. Mereka memilih "Soft Life Era"-sebuah filosofi hidup yang mengutamakan ketenangan, kesehatan mental, dan well-being di atas segalanya. Soft life bukan berarti malas atau tidak ambisius. Ini adalah perlawanan cerdas terhadap standar sukses yang membuat kita burnout. Kenapa Gen Z ramai-ramai pindah haluan ke soft life? Yuk, kita bedah sudut pandang psikologis dan sosialnya!
Pernah bertanya-tanya kenapa suara kita terdengar jauh lebih merdu saat bernyanyi di kamar mandi? Atau kenapa kita bisa lebih percaya diri saat menyanyi di ruangan kedap suara seperti di studio karaoke? Jawabannya ternyata ada hubungannya dengan cara suara bekerja, pantulan gelombang suara, dan psikologi manusia - kombinasi yang menarik dan sering tidak kita sadari.