Beberapa waktu terakhir, berita tentang harga emas yang terus merangkak naik ramai dibicarakan di mana-mana. Timeline media sosial penuh dengan update harga, antrean di butik emas, sampai obrolan soal "mending beli sekarang atau nanti?". Buat banyak anak muda, situasi ini bisa terasa membingungkan. Di satu sisi ingin ikut investasi, di sisi lain takut salah langkah dan malah bikin keuangan berantakan. Padahal, kenaikan harga emas justru bisa jadi momen yang tepat untuk mulai lebih sadar mengatur finansial, bukan panik.
Secara sederhana, emas sering dianggap sebagai aset aman (safe haven). Saat kondisi ekonomi global tidak stabil, inflasi meningkat, atau nilai mata uang melemah, banyak orang memilih menyimpan kekayaan dalam bentuk emas. Permintaan naik, harga pun ikut terdongkrak. Tapi penting untuk diingat: Tujuan utama kita sebagai anak muda bukan mengejar harga tertinggi, melainkan membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini.
Sebelum bicara soal investasi, satu hal yang sering dilupakan adalah mengatur arus kas. Mulailah dari hal paling dasar:
Metode sederhana yang banyak dipakai adalah aturan 50-30-20:
Tidak harus kaku, tapi ini bisa jadi panduan awal agar uang tidak "habis tanpa jejak".
Emas bukan instrumen untuk cepat kaya. Nilainya cenderung naik perlahan dalam jangka panjang dan cocok untuk:
Untuk anak muda, cara paling realistis adalah:
Ingat, beli rutin lebih penting daripada beli banyak sekali lalu berhenti.
Selain emas, ada beberapa instrumen yang relatif ramah untuk pemula:
Kuncinya: diversifikasi. Jangan taruh semua uang di satu tempat.
Beberapa hal yang sering terjadi:
Padahal, investasi terbaik adalah yang sesuai dengan kondisi, tujuan, dan profil risiko diri sendiri.
Kabar baiknya, kamu tidak perlu gaji besar untuk mulai investasi. Yang lebih penting adalah:
Sedikit demi sedikit, kebiasaan ini akan membentuk pondasi finansial yang kuat.
Harga emas mungkin terus naik, tapi kepanikan bukan strategi finansial yang baik.
Buat anak muda, momen ini justru pengingat bahwa mengatur uang dan berinvestasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Mulai dari yang sederhana: Rapikan cash flow, tentukan tujuan, pilih instrumen yang kamu pahami, dan bangun kebiasaan baik sejak sekarang.
Karena masa depan yang tenang bukan dibangun dari satu keputusan besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang konsisten setiap bulan.
Beberapa waktu terakhir, berita tentang harga emas yang terus merangkak naik ramai dibicarakan di mana-mana. Timeline media sosial penuh dengan update harga, antrean di butik emas, sampai obrolan soal "mending beli sekarang atau nanti?". Buat banyak anak muda, situasi ini bisa terasa membingungkan. Di satu sisi ingin ikut investasi, di sisi lain takut salah langkah dan malah bikin keuangan berantakan. Padahal, kenaikan harga emas justru bisa jadi momen yang tepat untuk mulai lebih sadar mengatur finansial, bukan panik.
Hujan seolah tak mau berhenti belakangan ini. Hampir setiap hari langit mendung, jalanan basah, dan beberapa wilayah, termasuk Jakarta, bahkan kembali dilanda banjir. Aktivitas di luar rumah jadi serba terbatas, rencana banyak yang tertunda, dan sebagian dari kita mulai merasa jenuh terjebak di dalam ruangan.
Pernah nggak kamu sadar, makin dewasa justru makin jarang benar-benar bertemu teman? Dulu bisa nongkrong hampir tiap minggu, sekarang sekadar chat "kapan ketemu?" saja sudah terasa sulit. Atau mungkin interaksi kamu dengan sahabat sekarang terbatas pada saling balas Story Instagram atau sekadar ucapan ulang tahun di chat? Pertemanan yang dulu hangat, pelan-pelan terasa menjauh tanpa kita sadari. Fenomena ini sering disebut sebagai Friendship Recession. Seiring bertambahnya usia, prioritas kita bergeser ke karier, pasangan, hingga keluarga. Waktu luang menjadi barang mewah, dan rasa "mager" (malas gerak) setelah bekerja seringkali menang melawan keinginan untuk bersosialisasi.
Belakangan ini, novel Broken String karya Aurelie Moeremans ramai diperbincangkan. Lewat buku memoar tersebut, Aurelie membagikan perjalanan hidupnya dengan jujur dan berani - bukan dengan teriakan, melainkan melalui tulisan yang tenang dan reflektif. Tanpa mengangkat sensasi, kisah ini mengingatkan kita bahwa kekuatan perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras, tetapi juga dalam keberanian untuk bertahan, mengenali diri, dan memilih untuk pulih. Di luar cerita siapa pun, satu hal menjadi semakin relevan: pentingnya kesadaran dan rasa aman bagi perempuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Liburannya sudah usai, tapi kok capeknya mulai berasa ya? Masuk minggu kedua Januari, euforia kembang api sudah berganti dengan tumpukan file di meja kantor atau jadwal kuliah yang mulai padat. Kalau kamu mulai merasa jenuh dan butuh stress release dari rutinitas awal tahun, musik bisa jadi cara tercepat buat "kabur" sejenak.