Latest News

Gizi Anak Bukan Cuma Soal Makan Kenyang, Ini Cara Menata Pola Makan yang Seimbang

11/09/2026
3 pengunjung

Pembahasan soal gizi anak kembali menjadi perhatian setelah Badan Gizi Nasional (BGN) memperbarui sasaran penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mengeluarkan 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima manfaat. Mayoritas satuan pendidikan tersebut disebut merupakan sekolah swasta bertaraf internasional, sekolah yang telah bekerja sama dengan institusi lain, serta sekolah yang dinilai sudah mandiri secara finansial.

Terlepas dari pembaruan sasaran program tersebut, ada satu hal yang sebenarnya tidak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu bagaimana kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi setiap hari. Sebab, membangun pola makan bergizi bukan hanya soal satu kali makan atau mengandalkan makanan yang didapat anak di sekolah. Kebiasaan makan di rumah juga menjadi bagian penting dari tumbuh kembang anak.


Anak Tidak Hanya Butuh Makan Sampai Kenyang

Ketika anak sudah makan tiga kali sehari, bukan berarti kebutuhan gizinya otomatis terpenuhi. Tubuh anak membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung pertumbuhan, aktivitas, konsentrasi saat belajar, hingga menjaga kondisi tubuh tetap sehat.

Kementerian Kesehatan menganjurkan pola makan beragam melalui konsep Isi Piringku, yaitu dalam satu kali makan terdapat makanan pokok, lauk-pauk sebagai sumber protein, sayur, dan buah. Tidak ada satu jenis makanan yang mampu menyediakan seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh, sehingga keberagaman makanan menjadi hal yang penting.


Cara Sederhana Menata Gizi Anak dalam Satu Piring

Tidak perlu langsung pusing menghitung kalori, protein, vitamin, dan mineral setiap kali menyiapkan makanan. Salah satu cara yang lebih sederhana adalah melihat isi piring secara keseluruhan.

Secara umum, setengah bagian piring diisi sayur dan buah, sedangkan setengah lainnya terdiri dari makanan pokok dan lauk-pauk. Makanan pokok seperti nasi, kentang, jagung, singkong, atau sumber karbohidrat lainnya memberikan energi. Sementara itu, lauk seperti ikan, ayam, telur, daging, tahu, tempe, dan kacang-kacangan membantu memenuhi kebutuhan protein. Sayur dan buah melengkapi asupan serat, vitamin, dan mineral.

Untuk anak, jumlah makanan tentu perlu disesuaikan dengan usia, aktivitas, kondisi tubuh, dan kebutuhan masing-masing. Jadi, tidak harus memaksakan porsi yang sama seperti orang dewasa. Orang tua bisa menggunakan ukuran tangan sebagai gambaran sederhana untuk memperkirakan porsi dan melihat apakah makanan yang diberikan sudah cukup beragam.


Protein Jangan Sampai Terlupakan

Salah satu hal yang sering luput ketika menyiapkan makanan anak adalah memastikan sumber protein selalu tersedia. Padahal, protein merupakan bagian penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Sumber protein tidak harus selalu berupa daging atau makanan yang mahal. Telur, ikan, ayam, tahu, tempe, dan kacang-kacangan bisa menjadi pilihan yang lebih mudah ditemukan sehari-hari. Variasikan sumber protein agar anak tidak bosan sekaligus mendapatkan beragam zat gizi.

Misalnya, hari ini anak makan nasi, telur dan sayur. Besok bisa diganti dengan nasi, ikan dan tumis sayur. Di hari lain, tahu atau tempe bisa menjadi pelengkap bersama ayam dan sayuran. Sederhana, tetapi tetap beragam.


Sayur dan Buah Tidak Harus Selalu Disajikan dengan Cara yang Sama

"Anak saya susah makan sayur" mungkin menjadi salah satu keluhan yang cukup sering terdengar. Daripada langsung menyerah, orang tua bisa mencoba mengenalkan sayur dan buah dalam bentuk serta menu yang berbeda.

Sayur bisa dicampurkan ke telur dadar, sup, tumisan, nasi goreng, atau dijadikan isian makanan yang disukai anak. Begitu juga dengan buah. Tidak harus selalu dimakan langsung dalam bentuk potongan. Pisang, pepaya, melon, semangka, apel, dan buah lainnya bisa diberikan sebagai pilihan camilan atau pelengkap setelah makan.

Yang penting, jangan menjadikan satu jenis sayur atau buah sebagai satu-satunya pilihan. Semakin beragam makanan yang dikenalkan, semakin banyak pula pilihan makanan bergizi yang bisa diterima anak.


Camilan Juga Perlu Diperhatikan

Pola makan anak tidak berhenti di sarapan, makan siang, dan makan malam. Camilan yang dikonsumsi di antara waktu makan juga bisa memengaruhi pola asupan sehari-hari. Bukan berarti anak tidak boleh makan jajanan favoritnya. Namun, sebaiknya makanan tinggi gula, garam, dan lemak tidak menjadi pilihan utama setiap hari. Buah, telur, roti dengan isian bergizi, kacang-kacangan, atau makanan rumahan lainnya bisa menjadi alternatif camilan yang lebih mengenyangkan.

Begitu juga dengan minuman. Air putih tetap perlu menjadi pilihan utama, sementara minuman yang tinggi gula sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering. Kemenkes juga memasukkan pembatasan makanan dan minuman yang tinggi gula, garam, dan lemak sebagai bagian dari pedoman gizi seimbang.


Tidak Perlu Sempurna Setiap Kali Makan

Menata gizi anak bukan berarti setiap piring harus terlihat sempurna seperti menu di buku kesehatan. Ada kalanya anak hanya mau makan telur, menolak sayur, atau sedang tidak terlalu berselera makan. Hal seperti ini bisa terjadi.

Yang lebih penting adalah melihat pola makan anak secara keseluruhan. Apakah dalam sehari sudah ada sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan cukup air? Apakah menu yang diberikan cukup beragam dari hari ke hari? Jika jawabannya sebagian besar iya, berarti orang tua sudah berada di arah yang tepat.

Pada akhirnya, gizi anak bukan hanya tentang seberapa banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh, tetapi juga seberapa beragam dan seimbang makanan tersebut. Program seperti MBG dapat menjadi salah satu bagian dari upaya pemenuhan gizi, tetapi kebiasaan makan yang dibangun di rumah tetap punya peran besar. Dari meja makan keluarga, anak belajar bahwa makanan bukan sekadar untuk menghilangkan lapar, tetapi juga menjadi bekal untuk tumbuh, belajar, bermain, dan menjalani aktivitas setiap hari.


Informasi lebih lanjut:


Website: https://nav.co.id/

Instagram: [@navkaraoke]

TikTok: [@official.navkaraoke]

News & Event
Gizi Anak Bukan Cuma Soal Makan Kenyang, Ini Cara Menata Pola Makan yang Seimbang
11/09/2026

Pembahasan soal gizi anak kembali menjadi perhatian setelah Badan Gizi Nasional (BGN) memperbarui sasaran penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mengeluarkan 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima manfaat. Mayoritas satuan pendidikan tersebut disebut merupakan sekolah swasta bertaraf internasional, sekolah yang telah bekerja sama dengan institusi lain, serta sekolah yang dinilai sudah mandiri secara finansial.

Hari Olahraga Nasional: Ketika Olahraga Bukan Lagi Sekadar Aktivitas Fisik
09/09/2026

Setiap tanggal 9 September, Indonesia memperingati Hari Olahraga Nasional atau Haornas. Peringatan ini berawal dari pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Solo pada 9 September 1948. Tidak lama setelah Indonesia merdeka, penyelenggaraan PON menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan olahraga nasional. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Olahraga Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar, Ini Dampaknya bagi Kesehatan dan Cara Melindungi Diri
07/09/2026

Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah erupsi terjadi sejak 4 September 2026. Abu vulkanik dari erupsi tersebut kemudian menyebar ke sejumlah wilayah di Jawa, termasuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah terdampak perlu lebih waspada, terutama karena paparan abu vulkanik dapat memengaruhi kesehatan. Bagi sebagian orang, abu vulkanik mungkin terlihat seperti debu biasa. Padahal, partikelnya dapat berukuran sangat kecil dan memiliki karakter yang berbeda dari debu sehari-hari. Jika terhirup atau mengenai bagian tubuh tertentu, abu dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, dan kulit. Lalu, apa saja dampaknya dan bagaimana cara melindungi diri?

Celine Dion Kembali Ramaikan Paris, Ini Lagu-Lagu Ikoniknya yang Wajib Masuk Playlist
04/09/2026

Nama Celine Dion kembali ramai dibicarakan setelah sang penyanyi terlihat di Paris menjelang rangkaian konser comeback-nya. Kehadirannya bahkan sempat mencuri perhatian setelah Celine menyapa para penggemar di luar hotel dan ikut bernyanyi bersama mereka. Salah satu lagu yang dibawakan dalam momen tersebut adalah "Pour que tu m'aimes encore", lagu berbahasa Prancis yang dirilis pada 1995.

Karhutla Kembali Meluas di Sejumlah Wilayah Indonesia, Ini Dampaknya bagi Lingkungan dan Kesehatan
02/09/2026

Memasuki akhir musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, titik panas dan kejadian kebakaran terpantau di berbagai daerah, mulai dari Kalimantan dan Sumatera hingga sejumlah wilayah di Papua dan Nusa Tenggara. Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga kembali menjadi perhatian. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko kebakaran masih perlu diwaspadai, terutama di tengah cuaca yang panas dan kering.