Pembahasan soal gizi anak kembali menjadi perhatian setelah Badan Gizi Nasional (BGN) memperbarui sasaran penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mengeluarkan 1.653 satuan pendidikan dari daftar penerima manfaat. Mayoritas satuan pendidikan tersebut disebut merupakan sekolah swasta bertaraf internasional, sekolah yang telah bekerja sama dengan institusi lain, serta sekolah yang dinilai sudah mandiri secara finansial.
Terlepas dari pembaruan sasaran program tersebut, ada satu hal yang sebenarnya tidak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu bagaimana kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi setiap hari. Sebab, membangun pola makan bergizi bukan hanya soal satu kali makan atau mengandalkan makanan yang didapat anak di sekolah. Kebiasaan makan di rumah juga menjadi bagian penting dari tumbuh kembang anak.
Ketika anak sudah makan tiga kali sehari, bukan berarti kebutuhan gizinya otomatis terpenuhi. Tubuh anak membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung pertumbuhan, aktivitas, konsentrasi saat belajar, hingga menjaga kondisi tubuh tetap sehat.
Kementerian Kesehatan menganjurkan pola makan beragam melalui konsep Isi Piringku, yaitu dalam satu kali makan terdapat makanan pokok, lauk-pauk sebagai sumber protein, sayur, dan buah. Tidak ada satu jenis makanan yang mampu menyediakan seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh, sehingga keberagaman makanan menjadi hal yang penting.
Tidak perlu langsung pusing menghitung kalori, protein, vitamin, dan mineral setiap kali menyiapkan makanan. Salah satu cara yang lebih sederhana adalah melihat isi piring secara keseluruhan.
Secara umum, setengah bagian piring diisi sayur dan buah, sedangkan setengah lainnya terdiri dari makanan pokok dan lauk-pauk. Makanan pokok seperti nasi, kentang, jagung, singkong, atau sumber karbohidrat lainnya memberikan energi. Sementara itu, lauk seperti ikan, ayam, telur, daging, tahu, tempe, dan kacang-kacangan membantu memenuhi kebutuhan protein. Sayur dan buah melengkapi asupan serat, vitamin, dan mineral.
Untuk anak, jumlah makanan tentu perlu disesuaikan dengan usia, aktivitas, kondisi tubuh, dan kebutuhan masing-masing. Jadi, tidak harus memaksakan porsi yang sama seperti orang dewasa. Orang tua bisa menggunakan ukuran tangan sebagai gambaran sederhana untuk memperkirakan porsi dan melihat apakah makanan yang diberikan sudah cukup beragam.
Salah satu hal yang sering luput ketika menyiapkan makanan anak adalah memastikan sumber protein selalu tersedia. Padahal, protein merupakan bagian penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Sumber protein tidak harus selalu berupa daging atau makanan yang mahal. Telur, ikan, ayam, tahu, tempe, dan kacang-kacangan bisa menjadi pilihan yang lebih mudah ditemukan sehari-hari. Variasikan sumber protein agar anak tidak bosan sekaligus mendapatkan beragam zat gizi.
Misalnya, hari ini anak makan nasi, telur dan sayur. Besok bisa diganti dengan nasi, ikan dan tumis sayur. Di hari lain, tahu atau tempe bisa menjadi pelengkap bersama ayam dan sayuran. Sederhana, tetapi tetap beragam.
"Anak saya susah makan sayur" mungkin menjadi salah satu keluhan yang cukup sering terdengar. Daripada langsung menyerah, orang tua bisa mencoba mengenalkan sayur dan buah dalam bentuk serta menu yang berbeda.
Sayur bisa dicampurkan ke telur dadar, sup, tumisan, nasi goreng, atau dijadikan isian makanan yang disukai anak. Begitu juga dengan buah. Tidak harus selalu dimakan langsung dalam bentuk potongan. Pisang, pepaya, melon, semangka, apel, dan buah lainnya bisa diberikan sebagai pilihan camilan atau pelengkap setelah makan.
Yang penting, jangan menjadikan satu jenis sayur atau buah sebagai satu-satunya pilihan. Semakin beragam makanan yang dikenalkan, semakin banyak pula pilihan makanan bergizi yang bisa diterima anak.
Pola makan anak tidak berhenti di sarapan, makan siang, dan makan malam. Camilan yang dikonsumsi di antara waktu makan juga bisa memengaruhi pola asupan sehari-hari. Bukan berarti anak tidak boleh makan jajanan favoritnya. Namun, sebaiknya makanan tinggi gula, garam, dan lemak tidak menjadi pilihan utama setiap hari. Buah, telur, roti dengan isian bergizi, kacang-kacangan, atau makanan rumahan lainnya bisa menjadi alternatif camilan yang lebih mengenyangkan.
Begitu juga dengan minuman. Air putih tetap perlu menjadi pilihan utama, sementara minuman yang tinggi gula sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering. Kemenkes juga memasukkan pembatasan makanan dan minuman yang tinggi gula, garam, dan lemak sebagai bagian dari pedoman gizi seimbang.
Menata gizi anak bukan berarti setiap piring harus terlihat sempurna seperti menu di buku kesehatan. Ada kalanya anak hanya mau makan telur, menolak sayur, atau sedang tidak terlalu berselera makan. Hal seperti ini bisa terjadi.
Yang lebih penting adalah melihat pola makan anak secara keseluruhan. Apakah dalam sehari sudah ada sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan cukup air? Apakah menu yang diberikan cukup beragam dari hari ke hari? Jika jawabannya sebagian besar iya, berarti orang tua sudah berada di arah yang tepat.
Pada akhirnya, gizi anak bukan hanya tentang seberapa banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh, tetapi juga seberapa beragam dan seimbang makanan tersebut. Program seperti MBG dapat menjadi salah satu bagian dari upaya pemenuhan gizi, tetapi kebiasaan makan yang dibangun di rumah tetap punya peran besar. Dari meja makan keluarga, anak belajar bahwa makanan bukan sekadar untuk menghilangkan lapar, tetapi juga menjadi bekal untuk tumbuh, belajar, bermain, dan menjalani aktivitas setiap hari.
Informasi lebih lanjut:
Website: https://nav.co.id/
Instagram: [@navkaraoke]
TikTok: [@official.navkaraoke]
Pestapora hingga LaLaLa Festival menjadi beberapa momen yang ditunggu para pencinta musik untuk menikmati penampilan musisi favorit secara langsung. Mulai dari ikut bernyanyi bersama ribuan penonton, menikmati penampilan di atas panggung, sampai mengabadikan momen bersama teman, pengalaman datang ke festival musik memang punya keseruannya sendiri.
Influenza A belakangan kembali ramai dibicarakan setelah Kementerian Kesehatan mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara. Berdasarkan pemantauan hingga minggu ke-38 tahun 2026, aktivitas influenza di Indonesia berada dalam kategori medium. Kemenkes juga menyebut peningkatan yang terjadi pada Agustus hingga September masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia. Meski begitu, kondisi ini bukan berarti masyarakat perlu panik. Justru, meningkatnya perhatian terhadap influenza bisa menjadi pengingat untuk kembali menjaga kebersihan dan kesehatan sehari-hari. Lalu, sebenarnya apa itu influenza A dan bagaimana cara melindungi diri dari penularannya?
Setelah sekitar tujuh tahun tidak tampil di panggung off air, Syahrini akhirnya kembali menyapa penggemarnya lewat Pestapora 2026. Penampilannya pada Minggu (27/9) menjadi salah satu momen yang ramai diperbincangkan, apalagi Syahrini langsung membawa sejumlah lagu yang sudah sangat familiar di telinga pendengar musik Indonesia.
Nama Agnez Mo kembali menjadi perhatian setelah tampil dalam Reacher Season 4. Dalam serial Prime Video tersebut, Agnez Mo memerankan Lila Hoth, salah satu karakter penting yang muncul di musim terbaru. Season 4 sendiri mulai tayang pada Agustus 2026 dan episode terakhirnya baru saja dirilis pada September. Kehadiran Agnez menjadi salah satu hal yang menarik perhatian penonton Indonesia, terutama karena ia kembali menunjukkan kemampuan aktingnya setelah cukup lama tidak mengambil proyek layar.
Dunia gadget kembali ramai. Setelah iPhone Duo dan iPhone 18 diperkenalkan, perhatian terhadap smartphone terbaru kembali meningkat. Di sisi lain, Samsung Galaxy Z Fold8 juga masih menjadi salah satu perangkat yang banyak dibicarakan setelah hadir dengan desain foldable generasi terbarunya. Kehadiran berbagai smartphone baru ini menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi terus membuat kita penasaran dengan pengalaman baru yang ditawarkan. Namun, di tengah banyaknya gadget baru yang bermunculan, pernahkah kita bertanya,apakah kita benar-benar membutuhkan HP baru atau hanya tergoda untuk upgra Sebab, smartphone sekarang bukan lagi sekadar alat untuk menelepon dan berkirim pesan. Gadget sudah menjadi bagian dari hampir setiap aktivitas sehari-hari.